
Dokter spesialis THT Eka Hospital Depok, dr. Guntur Bayu Bima Pratama, Sp.THT-KL
Jakarta, tvrijakartanews – Sinusitis merupakan salah satu penyakit yang cukup sering ditemui di masyarakat. Kondisi ini muncul akibat peradangan atau pembengkakan pada dinding rongga sinus, yaitu rongga kecil berisi udara yang terletak di sekitar hidung, mata, dan dahi. Peradangan tersebut menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari hidung tersumbat, nyeri di area wajah, hingga sakit kepala yang bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.
Penyebab sinusitis beragam. Infeksi virus atau bakteri kerap menjadi pencetus, terutama setelah seseorang mengalami flu atau pilek. Faktor alergi seperti debu, serbuk sari, atau bulu hewan juga dapat memicu peradangan. Selain itu, kelainan pada struktur hidung, polip, hingga paparan polusi dan asap rokok diketahui berperan dalam memperburuk kondisi ini.
Dari sisi durasi, sinusitis dapat berlangsung dalam waktu singkat maupun lama. Ada yang bersifat akut, muncul setelah flu dan bertahan dua hingga empat minggu. Ada pula yang subakut, dengan gejala lebih dari sebulan. Pada sebagian penderita, sinusitis bisa menjadi kronis, menetap hingga lebih dari tiga bulan dan kerap kambuh kembali. Bahkan, ada pula kondisi rekuren, ketika sinusitis muncul berulang kali dalam satu tahun.
Gejala yang dialami penderita umumnya ditandai dengan hidung tersumbat atau berair, rasa nyeri dan tertekan di sekitar wajah, dahi, dan mata, disertai sakit kepala. Lendir berwarna kuning atau hijau sering kali keluar dari hidung, sementara kemampuan penciuman menurun. Pada beberapa kasus, penderita juga mengalami demam dan rasa lelah berkepanjangan.
Dokter spesialis THT Eka Hospital Depok, dr. Guntur Bayu Bima Pratama, Sp.THT-KL, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit ini. “Sinusitis memang kondisi yang umum, tetapi jangan dianggap sepele. Bila gejala berlangsung lebih dari sepuluh hari atau disertai demam tinggi, sebaiknya segera diperiksakan agar tidak menimbulkan komplikasi,” ujarnya.
Penanganan sinusitis sangat bergantung pada penyebabnya. Istirahat yang cukup, memperbanyak asupan cairan, serta menghirup uap hangat dapat membantu melegakan pernapasan. Kompres hangat di sekitar wajah juga dapat meredakan nyeri. Jika gejala tidak membaik, penggunaan obat seperti dekongestan atau antihistamin mungkin diperlukan, sesuai dengan anjuran tenaga medis. Dalam kondisi tertentu, terutama bila ada polip atau kelainan anatomi pada hidung, tindakan medis lebih lanjut bisa saja dilakukan.
Meski kerap dianggap ringan, sinusitis sebaiknya tidak diabaikan. Penanganan yang tepat bukan hanya membantu meredakan gejala, tetapi juga mencegah komplikasi dan menjaga kualitas hidup penderita.