
Kolaborasi Riset Didorong untuk Perkuat Integrasi Ekonomi Asia Tenggara. Foto : Istimewa
Jakarta, tvrijakartanews – Di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, penguatan integrasi ekonomi Asia Tenggara dinilai memerlukan pendekatan yang lebih terkoordinasi dan berbasis bukti. Kolaborasi riset dan dialog kebijakan lintas negara pun menjadi salah satu instrumen yang didorong untuk memperkuat daya saing kawasan.
Dalam konteks tersebut, Indonesian Business Council (IBC) dan The Southeast Asia Futures Initiative Centre (SEAFIC) menandatangani nota kesepahaman guna memperdalam kerja sama riset dan dialog kebijakan. Kemitraan ini diarahkan untuk mendukung penguatan daya saing Indonesia sekaligus memperdalam integrasi ekonomi regional.
Kerja sama tersebut mencakup konsultasi berkala, pengembangan riset bersama, serta penyusunan rekomendasi kebijakan pada sejumlah isu strategis, antara lain ketahanan ekonomi kawasan, konektivitas lintas negara, serta berbagai isu lintas batas yang berdampak langsung pada arus perdagangan dan keputusan investasi.
Ketua Dewan Pengawas IBC Arsjad Rasjid menilai Asia Tenggara tengah memasuki fase yang sangat dipengaruhi dinamika geopolitik dan geokonomi global.
“Dalam situasi ketika tarif perdagangan, disrupsi rantai pasok, dan ketidakpastian global makin memengaruhi keputusan ekonomi, ASEAN perlu bergerak lebih terkoordinasi dan lebih praktis. Percakapan kebijakan harus berbasis bukti dan relevan bagi pelaku usaha,” ujarnya.Senada, CEO IBC Sofyan Djalil menekankan bahwa penguatan daya saing kawasan bergantung pada kualitas dan konsistensi kebijakan.
“Daya saing lahir dari kebijakan yang jelas, konsisten, dan bisa diterjemahkan menjadi proyek nyata. Penguatan jejaring regional dan basis pengetahuan menjadi kunci agar agenda daya saing Indonesia terus menguat,” kata Sofyan.Ketua SEAFIC Tengku Zafrul Aziz menyebut kawasan Asia Tenggara membutuhkan kolaborasi yang lebih terarah dan berpandangan ke depan.
“Kawasan kita memerlukan jembatan yang kuat antara analisis, kebutuhan dunia usaha, dan rekomendasi kebijakan yang praktis untuk memperkuat integrasi serta ketahanan ekonomi,” ujarnya.Penandatanganan nota kesepahaman tersebut dilakukan dalam rangkaian peluncuran awal SEAFIC yang juga menghadirkan dialog bertema “ASEAN’s Golden Decade: Turning Geopolitical Overload into Geoeconomic Opportunity.” Forum ini membahas bagaimana kawasan dapat mengubah tekanan geopolitik menjadi peluang geokonomi.
Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia Dyah Roro Esti Widya Putri hadir memberikan sambutan pembuka. Sementara itu, Sekretaris Jenderal ASEAN Dr. Kao Kim Hourn menyampaikan pesan dukungan terhadap penguatan sinergi kebijakan dan praktik dalam memperkuat ketahanan ekonomi ASEAN.
Dialog turut menghadirkan Profesor Ekonomi Lee Kuan Yew School of Public Policy Prof. Danny Quah, Arsjad Rasjid, serta Tengku Zafrul Aziz. Para pembicara menyoroti pentingnya koordinasi kebijakan kawasan agar integrasi ekonomi tidak hanya berhenti pada komitmen formal, tetapi benar-benar tercermin dalam harmonisasi regulasi, kelancaran perdagangan, serta peningkatan arus investasi intra-ASEAN.
Ke depan, kolaborasi ini diharapkan membuka ruang forum dan riset bersama yang memperkaya percakapan kebijakan regional serta mempertemukan pengambil keputusan dan pelaku usaha untuk mendorong implementasi yang lebih konkret.
Di tengah tekanan global yang kian kompleks, penguatan kerja sama berbasis riset dinilai menjadi salah satu langkah strategis agar Asia Tenggara mampu menjaga stabilitas sekaligus memanfaatkan momentum pertumbuhan sebagai kawasan ekonomi yang semakin terintegrasi.

