Menko Airlangga Sebut Kesepakatan ART Fokus di Bidang Perdagangan
EkonomiNewsHot
Redaktur: Heru Sulistyono

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Tangkap layar Konpres Daring dengan Kemenko Perekonomian)

Jakarta, tvrijakartanews - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pembahasan dalam kesepakatan tarif resiprokal atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) berfokus pada kerja sama di bidang perdagangan.

Airlangga menambahkan substansi ART kali ini berbeda dibandingkan sejumlah perjanjian serupa yang dibahas dengan negara lain. Karena pasal-pasal di luar kerja sama ekonomi disepakati untuk tidak dimasukkan dan hanya berfokus pada aspek perdagangan serta investasi.

"Berbeda dengan berbagai perjanjian ART dengan negara lain, Amerika sepakat untuk mencabut pasal-pasal yang non kerja sama ekonomi. Antara lain untuk terkait pengembangan reaktor nuklir, kemudian terkait dengan kebijakan Laut China Selatan, terkait dengan pertahanan dan keamanan perbatasan. Sehingga murni ART kita adalah terkait dengan perdagangan," kata Airlangga dalam konferensi pers secara virtual di Jakarta, Jumat (20/2/2026).

Adapun Pemerintah Indonesia dan AS telah menuntaskan perundingan tarif dagang tersebut di Washington.Penandatanganan ART dilakukan oleh Menko Airlangga bersama Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer.

Dalam kesepakatan itu, AS mempertahankan tarif resiprokal sebesar 19 persen untuk produk impor dari Indonesia, kecuali untuk sejumlah produk tertentu yang memperoleh tarif 0 persen.

AS juga berkomitmen membentuk mekanisme agar produk tekstil dan garmen Indonesia dapat menikmati tarif resiprokal 0 persen untuk volume tertentu.

Kuota tersebut akan ditentukan berdasarkan jumlah ekspor tekstil yang diproduksi menggunakan kapas dan serat buatan asal AS.

Selain tekstil dan garmen, sebanyak 1.819 pos tarif produk Indonesia kini memperoleh fasilitas pembebasan tarif hingga 0 persen.

Produk yang termasuk dalam skema ini antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, serta komponen pesawat terbang.