MAN IC Pekalongan Luncurkan "KomProMi", Program Pengolahan Sampah Berbasis Bokashi Composting
NewsHot
Redaktur: Heru Sulistyono

Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia (IC) Pekalongan mengolah sampah dengan berbasis Bokashi Composting yang cepat, higienis, tanpa bau, dan tanpa emisi, melalui program “KomProMi” (Komposting Projek Mizan). (Foto: istimewa).

Jakarta, tvrijakartanews — Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia (IC) Pekalongan meluncurkan program inovatif pengolahan sampah makanan bertajuk “KomProMi” (Komposting Projek Mizan).

Kepala Madrasah MAN IC Pekalongan, Khoirul Anam, mengatakan program pengolahan food waste ini berbasis metode Bokashi Composting yang cepat, higienis, tanpa bau, dan tanpa emisi.

“Kami senang dan bangga anak-anak kami punya inisiatif, ide, dan melakukannya dalam aksi nyata, termasuk dalam mencari sponsor atau pembiayaannya, di tengah kesibukan mereka dalam belajar dan mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” tutur Khoirul Anam, dalam keterangannya, Kamis (5/2/2026).

Selain membangun sistem pengolahan sampah makanan di lingkungan sekolah, KomProMi juga menjalankan program edukasi, kampanye visual, dan seminar lingkungan berbasis nilai keislaman.

Sampah makanan ini diolah melalui fermentasi anaerobik selama 10–14 hari hingga menjadi kompos yang dimanfaatkan untuk penghijauan sekolah dan urban farming.

Ke depan, KomProMi ditargetkan berkembang menjadi pilot project nasional, khususnya bagi sekolah berasrama, serta diperluas ke 25 MAN Insan Cendekia di seluruh Indonesia, sejalan dengan visi pemerintah membangun gerakan nasional pengelolaan sampah berbasis pendidikan.

Terlebih, Presiden Prabowo pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul Senin (2/2/2026), menegaskan pentingnya gerakan kolektif berbasis pendidikan untuk mengatasi krisis sampah, seraya mendorong pelibatan siswa sekolah sebagai ujung tombak perubahan budaya lingkungan.

"MAN IC Pekalongan berbangga karena para siswanya memiliki kepedulian dan semangat yang sangat tinggi," ucap Anam.

Adapun program ini diketuai oleh Ahmad Ali Rayyan Shahab, siswa kelas XII MAN IC Pekalongan, dengan melibatkan lebih dari 50 relawan siswa.

KomProMi mengintegrasikan pendekatan eko-teologi dan ekonomi sirkular, dengan menjadikan nilai spiritual sebagai fondasi kesadaran ekologis.

“Nama KomProMi merupakan akronim dari Komposting Projek Mizan, dengan Mizan merujuk pada konsep keseimbangan dalam Al-Qur’an (QS. Ar-Rahman: 7–9), yang menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab moral dan spiritual manusia sebagai khalifah di bumi,” ujar Rayyan yang memang menjadi ‘aktivis’ lingkungan.