Airlangga: Ekonomi Indonesia 2026 Stabil di Tengah Gejolak Global
EkonomiNewsHot
Redaktur: Redaksi

Forum Indonesian Business Council (IBC) yang membahas Business Outlook 2026. Foto : Marsel Efraim Ananda

Jakarta, tvrijakartanews — Pemerintah menegaskan ekonomi Indonesia tetap berada pada jalur stabil di tengah ketidakpastian global. Koordinator Menteri Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 diproyeksikan mencapai 5,4 persen, didukung oleh konsumsi domestik, belanja pemerintah, serta penguatan sektor prioritas.

Hal tersebut disampaikan Airlangga dalam keynote speech pada forum Indonesian Business Council (IBC) yang membahas Business Outlook 2026. Menurutnya, meski pertumbuhan masih berada di kisaran 5 persen, fokus kebijakan kini bergeser dari mengejar angka pertumbuhan menuju peningkatan kualitas ekonomi melalui produktivitas, efisiensi modal, serta transformasi digital dan hijau.

Dalam paparannya, Airlangga menjelaskan APBN 2026 diarahkan pada delapan program prioritas, antara lain pendidikan, ketahanan energi, pertahanan, pangan, kesehatan, UMKM dan desa, gizi masyarakat, serta investasi dan perdagangan. Pemerintah juga memastikan defisit anggaran tetap terjaga di bawah 3 persen terhadap PDB, dengan inflasi terkendali di kisaran 2,9 persen, sebagai bentuk kehati-hatian fiskal.

Dari sisi kesejahteraan, indikator makro menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan tercatat 8,5 persen, pengangguran 4,9 persen, ketimpangan menurun dengan rasio gini 0,375, serta Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat menjadi 75,9. “Ini menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tetap inklusif dan berdampak langsung pada masyarakat,” ujar Airlangga.

Airlangga juga menyoroti ketahanan eksternal Indonesia yang dinilai kuat, ditandai dengan cadangan devisa tinggi, surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan, serta probabilitas resesi hanya sekitar 3 persen, jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara besar lainnya.

Menutup pidatonya, Airlangga menekankan bahwa Indonesia berada pada titik infleksi ekonomi, di mana stabilitas harus diikuti dengan eksekusi kebijakan dan investasi yang efektif. Dunia usaha diharapkan mampu beradaptasi cepat, meningkatkan daya saing, dan berinvestasi pada sektor bernilai tambah tinggi untuk menjaga momentum pertumbuhan berkelanjutan.