
Indonesian Business Council (IBC) resmi meluncurkan IBC Business Outlook 2026 bertajuk “Inflection: Breaking the Growth Plateau”. Foto : Marsel Efraim Ananda
Jakarta, tvrijakartanews – Indonesian Business Council (IBC) resmi meluncurkan IBC Business Outlook 2026 bertajuk “Inflection: Breaking the Growth Plateau” pada Selasa (14/1/2026). Laporan ini menyoroti ketahanan perekonomian Indonesia di tengah tekanan global, namun sekaligus mengingatkan adanya tantangan serius untuk keluar dari jebakan pertumbuhan di kisaran lima persen.
IBC mencatat, meskipun stabilitas makroekonomi Indonesia masih terjaga, kualitas pertumbuhan menunjukkan tekanan menjelang 2026. Perlambatan konsumsi rumah tangga, investasi yang melemah, serta keterbatasan ruang kebijakan fiskal dan moneter dinilai berpotensi menahan laju ekonomi nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, menyambut positif peluncuran IBC Business Outlook 2026 sebagai masukan strategis dari dunia usaha. Ia mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan peta jalan untuk meningkatkan ekspor Indonesia hingga 10 kali lipat dalam 10 tahun ke depan.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas IBC, Arsjad Rasjid, menegaskan pentingnya penguatan arah pertumbuhan nasional di tengah fragmentasi perdagangan global dan meningkatnya ketegangan geopolitik. Menurutnya, fokus utama perlu diarahkan pada peningkatan produktivitas ekonomi, kepastian berusaha, serta penguatan arus investasi guna menjaga fondasi pertumbuhan jangka menengah.
Dalam laporan tersebut, IBC memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 berada di kisaran 2,4–3,1 persen, dipengaruhi oleh perlambatan struktural ekonomi Tiongkok serta tensi geopolitik global. Di tengah kondisi itu, ekonomi Indonesia diperkirakan tetap tumbuh sekitar 4,95 persen pada 2026.
Untuk menembus batas pertumbuhan tersebut, IBC mengusulkan tiga katalis utama yang disebut 3C, yakni Certainty, Capability, dan Capital.
Certainty menekankan penguatan kepastian hukum dan kualitas regulasi untuk menurunkan biaya berusaha dan meningkatkan kepercayaan investor.Capability berfokus pada peningkatan produktivitas dan kualitas sumber daya manusia agar ekonomi bergerak ke sektor bernilai tambah tinggi.Sementara Capital diarahkan pada pendalaman sektor keuangan agar modal jangka panjang dapat mengalir ke sektor-sektor paling produktif dan inovatif.CEO IBC, Sofyan A. Djalil, menegaskan bahwa stabilitas makroekonomi saja tidak lagi cukup untuk mendorong pertumbuhan berkualitas.
“Indonesia berada pada titik infleksi. Keputusan kebijakan hari ini akan menentukan apakah kita tetap berada di jalur lama atau mampu melompat ke arah pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan,” ujarnya.Peluncuran IBC Business Outlook 2026 diharapkan dapat menjadi rujukan strategis bagi pemerintah dan pelaku usaha dalam merumuskan kebijakan serta langkah kolaboratif demi memperkuat arah pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

