Masjid Agung At-Thohiriyyah Empang, Saksi Dua Abad Sejarah Bogor
FeatureNewsHot
Redaktur: Heru Sulistyono

Masjid Agung At-Thohiriyyah Empang, Saksi Dua Abad Sejarah Bogor / Foto: Dimas Yuta Pratama

Bogor, tvrijakartanews - Derap langkah warga, suara kendaraan, dan riuh perdagangan di kawasan Empang seakan tak pernah benar-benar berhenti. Namun di tengah denyut kota yang terus bergerak, berdiri tenang sebuah bangunan tua yang memeluk waktu: Masjid Agung At-Thohiriyyah.

Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah penanda zaman, menghubungkan jejak kolonial, dinamika pemerintahan lokal, hingga momentum sejarah dunia dalam satu ruang yang sama.

Dari Surau Kecil ke Masjid Agung

Jauh sebelum tahun 1817, di sisi barat Alun-Alun Empang telah berdiri sebuah surau sederhana. Bangunannya belum permanen, tetapi posisinya mencerminkan pola tata kota masa kolonial: pusat pemerintahan dan pusat ibadah berada dalam satu kawasan. Konsep itu lazim dalam struktur kota-kota di Hindia Belanda, termasuk di wilayah yang kala itu dikenal sebagai Buitenzorg atau kini Bogor.

Perubahan besar terjadi pada 1817. Seorang ulama sekaligus tokoh Kampung Baru, Raden Haji Muhammad Thohir, membangun surau tersebut menjadi masjid permanen. Ia menghibahkan tanah lebih dari lima ribu meter persegi yang mencakup area alun-alun dan lahan di sekitar Empang Pulo untuk perluasan masjid.

Langkah itu bukan hanya keputusan keagamaan, tetapi juga pernyataan sosial: menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan masyarakat.

Setelah wafat pada 23 Juli 1844, estafet pembangunan dilanjutkan oleh putranya, Raden Adipati Aria Wiranata. Kepemimpinan berikutnya berada di tangan Raden Adipati Suryawinata, bupati terakhir Regentschap Buitenzorg yang berkedudukan di Empang yang dikenal pula sebagai Mbah Dalem Sholawat. Di tangan para tokoh inilah masjid tumbuh bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai simbol otoritas moral dan budaya.

Arsitektur yang Menyimpan Filosofi

Secara arsitektur, masjid ini memadukan gaya kolonial Belanda dengan sentuhan tradisional Nusantara. Empat saka guru berdiri kokoh menopang bangunan utama. Dalam tradisi arsitektur masjid Jawa, saka guru bukan sekadar elemen struktural, melainkan simbolik. Di At-Thohiriyyah, empat tiang utama itu dimaknai sebagai representasi empat mazhab dalam Islam dan empat fase perkembangan dakwah.

Tahun 1873, masjid dipugar menjadi bangunan permanen berbentuk pendopo dengan atap berundak dua tingkat, ciri kuat arsitektur tradisional. Ujian datang pada 1927 ketika kebakaran melanda permukiman sekitar masjid. Bangunan utama tetap utuh. Bagi warga, itu bukan sekadar keberuntungan teknis, melainkan simbol keteguhan.

Perluasan terus terjadi melalui wakaf sejumlah tokoh. Pada 1935, masjid dirombak total menggunakan material tembok permanen, membentuk wajah yang lebih kokoh dan modern untuk zamannya.

Sentuhan Arsitek Nasional

Babak penting lain terjadi pada 1952 ketika arsitek kenamaan Friedrich Silaban yang juga merancang Masjid Istiqlal, melakukan pemugaran. Gaya kolonial semakin menguat, namun bentuk atap utama tetap mempertahankan karakter tradisional. Menara lama berundak diganti dengan menara tinggi berkubah, memberi siluet baru pada langit Empang.

Perubahan itu mencerminkan dialektika zaman: antara menjaga warisan dan merespons modernitas.

Jejak Sejarah Dunia

Masjid ini juga pernah menjadi saksi momen bersejarah tingkat global. Pada 1955, saat berlangsung Konferensi Asia Afrika, Presiden Soekarno bersama Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser melaksanakan salat berjamaah di masjid ini.

Peristiwa itu menegaskan posisi masjid bukan hanya sebagai ruang ibadah lokal, tetapi juga ruang simbolik dalam percakapan solidaritas dunia Islam dan negara-negara berkembang kala itu.

Warisan yang Dijaga

Sejak 2007, masjid yang beralamat di Jalan Empang Nomor 1 ini resmi ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor. Status tersebut bukan sekadar label administratif, melainkan pengakuan atas nilai sejarah, arsitektur, dan sosialnya.

Di antara bayang-bayang kolonial, kisah para bupati, sentuhan arsitek nasional, dan gema langkah para pemimpin dunia, Masjid Agung At-Thohiriyyah tetap berdiri. Ia tidak hanya merawat iman jamaahnya, tetapi juga menyimpan memori kota, menghubungkan masa lalu dengan masa kini, dan mungkin, masa depan Bogor sendiri.