Pemerintah Pastikan Kesiapan Rumah Ibadah dan Madrasah di Sumatera Jelang Ramadan Pascabencana
NewsHot
Redaktur: Heru Sulistyono

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam rapat koordinasi tingkat menteri yang digelar di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Jakarta, Jumat (2/1). Foto : Istimewa/ Kemenag

Jakarta, tvrijakartanews - Pemerintah atau Kementerian Agama (Kemenag) memastikan kesiapan rumah ibadah dan lembaga pendidikan keagamaan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjelang Ramadan, seiring upaya pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut.

Kepastian itu disampaikan dalam rapat koordinasi tingkat menteri yang digelar di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Jakarta, Jumat (2/1).

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkapkan, dari total 1.137 rumah ibadah yang terdampak bencana di tiga provinsi tersebut, mayoritas telah kembali berfungsi.

Berdasarkan keterangan yang diketahui, di Aceh, dari 878 rumah ibadah terdampak, sebanyak 703 sudah dapat digunakan, sementara 175 lainnya masih dalam tahap pemulihan. Di Sumatera Utara, 112 dari 137 rumah ibadah telah beroperasi kembali. Adapun di Sumatera Barat, hampir seluruh rumah ibadah telah pulih, dengan 120 dari 122 sudah digunakan untuk aktivitas keagamaan.

Selain pemulihan fisik, Kemenag juga menyalurkan bantuan sarana ibadah untuk mendukung kegiatan keagamaan masyarakat. Bantuan tersebut meliputi karpet atau hambal, sajadah, mukena, serta 9.000 mushaf Al-Qur’an yang disalurkan ke tiga provinsi terdampak.

Kesiapan lembaga pendidikan keagamaan turut menjadi prioritas Kemenag. Tercatat sebanyak 500 madrasah terdampak bencana, dengan jumlah siswa mencapai 112.964 orang serta lebih dari 12 ribu guru dan tenaga kependidikan.

Dari jumlah tersebut, 435 madrasah atau sekitar 87 persen dinyatakan siap melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM). Sementara 65 madrasah lainnya belum dapat beroperasi optimal karena mengalami kerusakan berat, kehilangan sarana pembelajaran, atau proses pembersihan yang belum selesai.

"Prinsip kami, layanan keagamaan dan pendidikan tidak boleh terhenti. Dalam kondisi darurat, kita siapkan kelas sementara, pembelajaran bergantian, dan berbagai skema agar anak-anak tetap bisa belajar," kata Nasaruddin. Dilansir dari keterangan resminya di Jakarta, Sabtu (3/1/2026).

Nasaruddin menegaskan, pemulihan kegiatan sosial keagamaan menjadi perhatian utama Kemenag, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri. Menurutnya, rumah ibadah dan madrasah memiliki peran strategis sebagai pusat pemulihan sosial masyarakat pascabencana.

"Ramadan harus tetap menjadi ruang penguatan spiritual masyarakat, meskipun kita sedang menghadapi ujian bencana. Karena itu, negara hadir memastikan sarana ibadah dan pendidikan kembali berfungsi," tegasnya.

Sepanjang 2025, Kemenag telah menyalurkan berbagai bantuan pemulihan, antara lain 5.886 unit sarana pembelajaran berupa meja, kursi, papan tulis, laptop, dan printer; 6.410 alat kebersihan; serta 792 paket peralatan darurat seperti genset, pompa air, dan alat semprot. Total nilai bantuan sarana dan prasarana tersebut mencapai Rp49,9 miliar.

Secara keseluruhan, total bantuan Kemenag untuk penanganan dampak bencana di tiga provinsi tersebut mencapai Rp73,97 miliar, yang bersumber dari APBN sebesar Rp66,47 miliar dan Kemenag Peduli sebesar Rp7,5 miliar.

Nasaruddin menambahkan, koordinasi lintas kementerian akan terus diperkuat agar pemulihan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup pemulihan sosial dan keagamaan masyarakat.

"Kita ingin memastikan pemulihan ini utuh, bukan hanya bangunan yang berdiri kembali, tetapi juga kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat yang kembali tumbuh dengan baik," katanya.