
Dialog Wiwaksa Bastra yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Bahasa (LPB) Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) dan disiarkan dalam program Perspektif TVRI Jakarta, Senin (9/4/2026). Foto Istimewa
Jakarta, tvrijakartanews - Di tengah menguatnya perdebatan mengenai relasi gender di ruang publik, sastra dinilai dapat menjadi ruang kritik yang lebih jujur, reflektif, dan manusiawi dalam membaca hubungan antara laki-laki dan perempuan di masyarakat. Pandangan tersebut mengemuka dalam dialog Wiwaksa Bastra yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Bahasa (LPB) Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) dan disiarkan dalam program Perspektif TVRI Jakarta, Senin (9/4/2026).
Dialog bertema Relasi Antargender dalam Perspektif dan Kritik Sastra itu menghadirkan narasumber Eko Marini, M.Hum. dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa serta Ketua Program Studi Magister Bahasa Inggris Unindra, Dr. Oom Komariah Syamsudin.
Keduanya membahas bagaimana sastra Indonesia tidak hanya merekam perubahan sosial, tetapi juga membentuk cara pandang masyarakat terhadap relasi gender.
Eko Marini mengatakan, sastra Indonesia memiliki fungsi strategis sebagai media pendidikan karakter, terutama bagi generasi muda. Melalui cerita, puisi, maupun drama, sastra dapat menanamkan nilai-nilai moral seperti empati, kejujuran, tanggung jawab, hingga kepekaan sosial tanpa kesan menggurui.
“Sastra membantu generasi muda memahami realitas kehidupan dan keberagaman budaya Indonesia. Ia juga melatih cara berpikir kritis, imajinasi, serta keterampilan berbahasa yang penting bagi perkembangan intelektual dan emosional,” ujar Eko dalam dialog tersebut.
Menurut dia, karya sastra bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana pendidikan moral dan sosial yang dapat membentuk sikap toleransi dan kesadaran kebangsaan. Eko menilai, generasi muda perlu diperkenalkan pada sastra sejak dini agar mampu memahami realitas sosial dengan lebih peka, termasuk dalam membaca dinamika hubungan antargender yang terus berkembang.
Sementara itu, Dr. Oom Komariah Syamsudin menyoroti bahwa relasi gender dalam sastra Indonesia terus mengalami pergeseran seiring perubahan nilai sosial, agama, politik, dan ekonomi. Ia menyebut, dari karya-karya klasik seperti Sutasoma hingga budaya populer kontemporer, sastra menunjukkan dinamika cara pandang masyarakat terhadap relasi antara laki-laki dan perempuan.
Mengutip pemikiran Sapardi Djoko Damono bahwa sastra merupakan dialog terus-menerus antara teks dan masyarakat, Oom menegaskan bahwa tantangan sastra Indonesia ke depan bukan hanya soal representasi relasi gender, tetapi bagaimana sastra menghadirkan ruang kritik yang adil, reflektif, dan manusiawi.
“Sastra tidak boleh terjebak dalam dogma tunggal, baik patriarki, romantisisme, maupun ideologi tertentu. Ia harus tetap berpihak pada nilai kemanusiaan,” tegas Oom.
Menurut dia, sastra seharusnya menjadi ruang yang membuka pemahaman, bukan memperkuat bias atau dominasi satu perspektif tertentu. Dengan begitu, sastra dapat membantu masyarakat melihat relasi gender secara lebih setara dan berimbang.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Lembaga Pengembangan Bahasa Unindra M. Kabul Budiono menekankan pentingnya penguatan literasi bahasa dan sastra melalui diskursus akademik yang berkelanjutan serta pemanfaatan media massa sebagai sarana diseminasi.
Ia mengingatkan bahwa penyebarluasan karya sastra melalui berbagai media, khususnya media sosial, menunjukkan kecenderungan menurun dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut, kata Kabul, perlu diantisipasi melalui peningkatan kegiatan literasi yang melibatkan akademisi, lembaga pendidikan, dan media.
“Media publik seperti TVRI memiliki peran strategis untuk menjembatani sastra dengan masyarakat luas,” ujarnya.
Melalui dialog Wiwaksa Bastra, LPB Unindra menegaskan komitmennya untuk menjaga sastra tetap hidup, relevan, dan berdaya kritis di tengah dinamika sosial masyarakat Indonesia. Dialog tersebut juga dimeriahkan dengan penampilan Duta Bahasa Unindra yang membawakan petikan drama mengenai perbedaan persepsi terhadap sastra.

