Cegah Superflu, Dinkes DKI Ajak Warga Terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
NewsHot
Redaktur: Heru Sulistyono

Ilustrasi — Dinkes DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai langkah pencegahan penularan superflu atau influenza A (H3N2) subclade K. Foto : Dok. Istimewa

Jakarta, tvrijakartanews - Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai langkah pencegahan penularan superflu atau influenza A (H3N2) subclade K yang saat ini terdeteksi di sejumlah wilayah di Indonesia.

Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengatakan penerapan PHBS menjadi kunci utama untuk menekan risiko penularan.

Langkah tersebut meliputi mencuci tangan menggunakan sabun, mengenakan masker saat sakit, menerapkan etika batuk, menghindari menyentuh area wajah, mencukupi asupan nutrisi seimbang, minum air putih minimal dua liter per hari, beristirahat cukup, serta berolahraga secara teratur.

"Segera ke fasilitas kesehatan jika keluhan berlanjut dan waspadai tanda-tanda pneumonia dan pneumonia berat seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, saturasi oksigen kurang dari 92 persen," kata Ani dalam keterangannya di Jakarta yang diketahui, Senin (5/1/2026).

Berdasarkan hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025, influenza A (H3N2) subclade K telah terdeteksi sejak Agustus 2025. Temuan ini diperoleh melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

Kemenkes mencatat terdapat 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi. Jumlah kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Meski demikian, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa situasi influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia hingga akhir Desember 2025 masih dalam kondisi terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan jenis influenza lainnya.

Ani menambahkan, tren kasus influenza A di Jakarta justru menunjukkan penurunan sejak puncak kasus yang terjadi pada Oktober 2025. Penurunan serupa juga terjadi pada kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia.

"Demikian juga untuk kasus ISPA dan pneumonia secara umum berdasarkan data yang ada di Dinkes terus turun sejak puncak kasus yang terjadi pada bulan Oktober 2025," katanya.

Secara nasional, Dinkes DKI mencatat kasus penyakit mirip influenza (influenza-like illness atau ILI) sempat meningkat hingga 74 persen pada Agustus 2025, yang didominasi oleh influenza A. Tren serupa juga terjadi di Jakarta.

Sementara itu, untuk ISPA, tercatat sebanyak 1.966.308 kasus secara nasional sejak Januari hingga Oktober 2025, dengan peningkatan kasus mulai teridentifikasi sejak Juli 2025.