Presiden Prabowo Ungkap Indonesia Capai Swasembada Pangan 2025 Lebih Cepat, Produksi Beras Naik dan Impor Nol
NewsHot
Redaktur: Heru Sulistyono

Indonesia mencatat tonggak sejarah baru di sektor pertanian dengan berhasil mencapai swasembada pangan pada 2025, lebih cepat dari target yang ditetapkan pemerintah. Target yang semula diproyeksikan tercapai dalam empat tahun itu justru terealisasi hanya dalam waktu satu tahun. Foto Sekretariat Presiden

Jakarta, tvrijakartanews - Indonesia mencatat tonggak sejarah baru di sektor pertanian dengan berhasil mencapai swasembada pangan pada 2025, lebih cepat dari target yang ditetapkan pemerintah. Target yang semula diproyeksikan tercapai dalam empat tahun itu justru terealisasi hanya dalam waktu satu tahun.

Presiden Prabowo menilai momentum ini menandai keberhasilan Indonesia memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan pangan, khususnya beras. Presiden Prabowo menegaskan, swasembada pangan merupakan fondasi utama kedaulatan dan kemerdekaan sebuah bangsa. Menurut dia, ketergantungan pangan pada negara lain akan melemahkan posisi suatu negara.

“Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat. Tidak mungkin bangsa itu merdeka kalau makan, pangan, tergantung bangsa lain,” ujar Presiden dalam keterangannya, Kamis (8/1/2026).

Keberhasilan swasembada pangan tercermin dari peningkatan signifikan produksi beras nasional. Sepanjang 2025, produksi beras Indonesia mencapai 34,71 juta ton, naik 4,09 juta ton atau sekitar 13,36 persen dibandingkan 2024. Kenaikan produksi ini menghasilkan surplus beras sebesar 3,52 juta ton, sehingga Indonesia tidak melakukan impor beras konsumsi sepanjang 2025.

Dari sisi cadangan, stok beras nasional juga berada pada level tertinggi sepanjang sejarah. Stok beras yang dikelola Perum Bulog pada akhir 2025 tercatat sebesar 3,24 juta ton dan sempat mencapai puncak 4,2 juta ton. Kondisi ini memberikan ruang kebijakan yang lebih kuat bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan di dalam negeri.

Keberhasilan tersebut turut berdampak pada kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) pada 2025 mencapai 125,35, tertinggi dalam 25 tahun terakhir. Angka ini mencerminkan meningkatnya daya beli dan pendapatan petani seiring membaiknya harga hasil pertanian dan stabilnya biaya produksi.

Kinerja sektor pertanian juga terlihat dari sisi perdagangan luar negeri. Nilai ekspor pertanian Indonesia pada periode Januari–Oktober 2025 mencapai Rp 629,7 triliun, meningkat 33,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini menunjukkan sektor pertanian nasional semakin kompetitif dan tidak hanya menopang kebutuhan domestik, tetapi juga pasar global.

Pemerintah menegaskan, swasembada pangan 2025 bukanlah titik akhir, melainkan fondasi bagi penguatan kemandirian nasional yang berkelanjutan. Ke depan, pemerintah berkomitmen menjaga konsistensi produksi, memperluas swasembada ke komoditas strategis lainnya, serta memastikan manfaat pembangunan pertanian dirasakan secara merata oleh petani, nelayan, dan masyarakat luas.