109 Tiang Monorel di Rasuna Said Dibongkar, Pemprov DKI Mulai Revitalisasi Kawasan
NewsHot
Redaktur: Heru Sulistyono

Pembongkaran tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan disaksikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Wakil Gubernur (Wagub) Rano Karno, Gubernur ke-12 DKI Jakarta Sutiyoso, Kepala Kejaksaan Tinggi Daerah Khusus Jakarta Dr. Patris Yusrian Jaya, serta Direktur Kordinasi dan Supervisi Wilayah II KPK Brigjen Pol. Bachtiar Ujang Purnama. Foto : Istimewa/ Pemprov DKI Jakarta

Jakarta, tvrijakartanews - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta resmi memulai penataan kawasan Kuningan dengan membongkar tiang-tiang monorel mangkrak di sepanjang koridor Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).

Pembongkaran tersebut menandai dimulainya revitalisasi kawasan sepanjang 3,6 kilometer yang telah menganggur selama puluhan tahun.

Proses pembongkaran turut disaksikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Wakil Gubernur (Wagub) Rano Karno, Gubernur ke-12 DKI Jakarta Sutiyoso, Kepala Kejaksaan Tinggi Daerah Khusus Jakarta Dr. Patris Yusrian Jaya, serta Direktur Kordinasi dan Supervisi Wilayah II KPK Brigjen Pol. Bachtiar Ujang Purnama.

Terkait hal tersebut, Pramono mengatakan, pemotongan tiang monorel merupakan simbol dimulainya penataan menyeluruh koridor Rasuna Said sekaligus mengakhiri ketidakpastian aset yang mangkrak di ruang publik.

"Baru saja kita melakukan groundbreaking penataan Jalan HR Rasuna Said yang ditandai dengan pemotongan tiang monorel. Penataan ini kami mulai dengan memastikan seluruh proses berjalan tertib, taat hukum, dan transparan," kata Pramono yang dilansir dari keterangan pers.

Pramono menegaskan, penataan Rasuna Said telah melalui proses panjang dengan pendampingan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan dukungan Kejaksaan Tinggi agar tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.

Terkait status aset, Pemprov DKI terus berkoordinasi dengan PT Adhi Karya. Adapun besi hasil pembongkaran tiang akan diserahkan kepada pihak terkait sesuai ketentuan yang berlaku.

Ia pun menjelaskan, biaya pembongkaran tiang monorel sebesar Rp254 juta merupakan bagian kecil dari total anggaran sebesar Rp102 miliar untuk penataan kawasan secara keseluruhan.

Lingkup penataan meliputi:

- Perbaikan badan jalan dan saluran air

- Pelebaran trotoar ramah pejalan kaki dan penyandang disabilitas

- Pembangunan halte untuk konektivitas transportasi publik

- Penyesuaian geometrik jalan untuk kelancaran arus lalu lintas

- Penambahan taman, Penerangan Jalan Umum (PJU) modern, serta perlengkapan jalan lainnya.

"Penataan ini bukan hanya soal membongkar, tetapi juga memperbaiki kualitas ruang jalan agar lebih nyaman, aman, dan estetis bagi seluruh pengguna," kata Pramono.

Total terdapat 109 tiang monorel yang akan dibongkar secara bertahap hingga kawasan Hotel Grand Melia. Pekerjaan dilakukan oleh Dinas Bina Marga DKI pada malam hari tanpa penutupan jalan, dengan dukungan Dinas Perhubungan dan instansi terkait untuk meminimalkan gangguan lalu lintas. Penataan ditargetkan rampung pada September 2026.

Sementara itu, Gubernur ke-12 DKI Jakarta, Sutiyoso, turut mengapresiasi langkah Pemprov DKI yang dianggap memberikan kepastian terhadap aset mangkrak tersebut.

"Selama puluhan tahun, tiang monorel ini terbengkalai dan merusak estetika kota. Hanya ada dua pilihan, dilanjutkan atau dibongkar. Hari ini diputuskan untuk dibongkar, dan itu merupakan keputusan yang tepat karena memberi kepastian bagi Jakarta," kata Sutiyoso.

Sutiyoso menjelaskan, monorel dahulu dirancang sebagai bagian sistem transportasi makro yang terintegrasi dengan MRT dan busway, namun terhenti karena dinamika kebijakan.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan aparat penegak hukum serta mengajak masyarakat dan media mendukung keberlanjutan penataan.

"Dengan dukungan semua pihak, penataan ini diharapkan dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," kata orang yang kerap disapa Bang Yos itu.

Kawasan Kuningan merupakan segitiga emas Jakarta yang menjadi pusat ekonomi, bisnis, dan diplomasi dengan keberadaan 11 kantor kedutaan besar. Pramono berharap, penataan koridor Rasuna Said dapat mengembalikan fungsi strategis tersebut.

"Melalui penataan ini, kami ingin mengembalikan fungsi strategis kawasan Kuningan sebagai pusat ekonomi, bisnis, dan diplomasi, sekaligus menjadikannya etalase Jakarta sebagai kota global," kata Pramono.