Peringatan Isra Mi'raj, Menag: Salat Bentuk Kesalehan Spiritual, Sosial, dan Ekologis
NewsHot
Redaktur: Heru Sulistyono

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar. Foto : Istimewa/ Kemenag

Jakarta, tvrijakartanews - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan, bahwa salat tidak hanya memiliki dimensi kesalehan spiritual, tetapi juga mengandung nilai kepedulian sosial dan komitmen menjaga kelestarian lingkungan.

Menurutnya, peristiwa Mi'raj menjadi momentum penting ketika Nabi Muhammad SAW menerima perintah salat lima waktu. Selain sebagai kewajiban ibadah, salat dipandang sebagai fondasi pembentukan kepribadian Muslim yang beriman, berdisiplin, dan berakhlak mulia.

"Salat yang dilaksanakan dengan penghayatan dan pemahaman yang benar akan melahirkan pribadi yang berkesadaran tinggi, memiliki kepekaan sosial, serta kepedulian terhadap lingkungan," kata Nasaruddin, dalam keterangan pers yang diterima, Jumat (16/1/2026).

Ia juga menegaskan, pelaksanaan salat yang benar dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar sekaligus mendorong tumbuhnya rasa tanggung jawab sosial dan ekologis.

"Salat yang dilakukan secara benar mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar, sekaligus menumbuhkan sikap tanggung jawab sosial dan ekologis," katanya.

Nasaruddin mencontohkan prinsip thaharah sebagai syarat sah salat, yang mengajarkan pentingnya kebersihan diri serta lingkungan sekitar.

Selain aspek kebersihan, ia menyoroti bahwa gerakan dan tata tertib salat mengandung pesan kedisiplinan, moderasi, serta pengendalian diri. Nilai-nilai tersebut relevan dalam upaya mengelola sumber daya alam secara adil dan berkelanjutan.

Di sisi lain, Nasaruddin menyebut esensi Isra Mi'raj juga memperlihatkan Islam sebagai fondasi etika ekologis. Konsep tauhid, katanya, mengimplikasikan kesatuan ciptaan (unity of creation) bahwa alam semesta merupakan bagian dari ayat-ayat kauniyah yang mencerminkan kebesaran Allah SWT.

"Merusak alam berarti mengabaikan tanda-tanda kekuasaan Allah, sementara menjaga dan merawat lingkungan merupakan bagian dari manifestasi keimanan dan ketaatan kepada-Nya," kata Nasaruddin.

Melalui Peringatan Isra Mi'raj 1447 H/ 2026 M, Nasaruddin mengajak umat Islam menjadikannya sebagai momentum refleksi untuk meneguhkan kembali peran manusia sebagai khalifah di bumi.

Menurutnya, krisis lingkungan yang dihadapi dunia saat ini membutuhkan bentuk kesalehan yang utuh, tidak hanya dalam ketaatan beribadah, tetapi juga dalam menjaga keseimbangan alam serta menggunakan sumber daya secara bijaksana.

"Kesalehan sejati bukan hanya yang menghubungkan kita ke langit, tetapi juga yang menjaga bumi tempat kita berpijak," tegasnya.

Nasaruddin berharap peringatan Isra Mi'raj dapat menjadi titik balik dalam memperkuat kesalehan spiritual, kesalehan sosial yang menjunjung keadilan dan kemaslahatan, serta kesalehan ekologis melalui tindakan nyata menjaga kelestarian alam.