
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. Foto : Istimewa/ Kemkomdigi
Jakarta, tvrijakartanews - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria, menegaskan bahwa keamanan siber merupakan elemen krusial dalam menjaga pelindungan data pribadi sekaligus memastikan keberlangsungan layanan publik yang digunakan masyarakat setiap hari.
"Keamanan siber hari ini tidak bisa lagi dipahami sebagai isu teknis atau sekadar penanganan insiden peretasan," kata Nezar. Dilansir dari keterangan pers di Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Nezar menjelaskan, bahwa ruang siber kini telah menjadi arena strategis yang berdampak langsung pada berbagai aspek kehidupan publik, mulai dari layanan administrasi pemerintahan, kesehatan, bantuan sosial, hingga proses demokrasi.
Menurutnya, ancaman terbesar terhadap kedaulatan digital bukan selalu serangan siber berskala besar yang bersifat spektakuler, melainkan penipisan kedaulatan yang berlangsung perlahan dari dalam sistem itu sendiri.
Ketergantungan pada infrastruktur digital asing, kebocoran data strategis, dan manipulasi informasi berisiko menghentikan layanan publik dan menurunkan kepercayaan masyarakat.
Nezar menekankan bahwa berbagai infrastruktur digital seperti kabel laut, pusat data, layanan cloud (penyimpanan berbasis online), sistem identitas digital, hingga kecerdasan buatan harus dipandang sebagai aset keamanan negara karena menjadi bagian dari medan strategis.
Ia mengutip laporan Global Cyber Security Outlook 2026 yang mencatat kenaikan sekitar 34 persen serangan ransomware bermotif geopolitik sepanjang 2025 dengan sasaran infrastruktur digital dan sektor kritis.
Sebagai informasi, ransomware merupakan perangkat lunak perusak yang mengenkripsi (mengubah) data atau sistem, lalu meminta tebusan agar data tersebut dapat diakses kembali
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah menegaskan penguatan peran Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dalam memastikan kesadaran situasional siber nasional, melindungi data warga, menjaga layanan publik tetap berjalan, serta mengamankan proses demokrasi.
"Di era geopolitik siber negara tidak kalah karena diserang tetapi karena ruang digitalnya dibiarkan dibentuk oleh pihak lain. Tugas kita memastikan ruang digital Indonesia tetap berada dalam kendali Indonesia," tegas Nezar.

