
Wamen PU Tinjau Bendung Katulampa, Pastikan Kondisi Bendungan tetap Aman / Foto: Dimas Yuga Pratama
Bogor, tvrijakartanews - Wakil Menteri Pekerjaan Umum (Wamen PU) Diana Kusumawati melakukan peninjauan ke Bendung Katulampa, Kota Bogor.
Kegiatan tersebut dilakukan, sebagai respons atas curah hujan tinggi yang melanda wilayah Bogor dan DKI Jakarta dalam beberapa hari terakhir, guna memastikan kondisi bendung tetap aman.
Diana menilai, pemantauan Bendung Katulampa sangat krusial sebagai langkah antisipasi terhadap potensi banjir di kawasan hilir Sungai Ciliwung, khususnya wilayah Jakarta.
“Hari ini saya mengunjungi Bendung Katulampa karena melihat kondisi cuaca di DKI Jakarta dan Bogor yang terus-menerus hujan. Saya selalu memantau kondisi di masing-masing bendung,” ujar Diana.
Sebelum meninjau Bendung Katulampa, Diana lebih dahulu mengunjungi wilayah Cengkareng, Jakarta Barat. Ia menyebutkan, pemantauan dilakukan secara bertahap untuk memastikan sistem pengendalian banjir berjalan sesuai fungsi.
“Kemarin saya melihat kondisi di Cengkareng, dan hari ini saya ke Bendung Katulampa. Saat ini ketinggian air sekitar 60 sentimeter, artinya masih dalam status Siaga Empat,” jelasnya.
Meski kondisi saat ini masih terkendali, Diana mengungkapkan bahwa pada hari sebelumnya debit air sempat meningkat hingga melampaui status Siaga Tiga. Hal tersebut berdampak pada terjadinya luapan air di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan.
“Kemarin sempat di atas Siaga Tiga, akhirnya di daerah Pejaten terjadi luapan akibat pelepasan air. Karena itu saya ingin melihat langsung berapa debit air dan memastikan infrastruktur di sini masih berfungsi dengan baik,” katanya.
Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, Diana memastikan Bendung Katulampa berada dalam kondisi aman dengan seluruh petugas tetap siaga. Ia berharap kondisi cuaca di wilayah Jawa Barat segera membaik agar debit air dapat terus dikendalikan.
“Alhamdulillah, teman-teman di Bendung Katulampa siap siaga. Mudah-mudahan cuaca di Jawa Barat tidak hujan sehingga kondisi bisa tetap terkendali,” ucapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Diana juga menyampaikan rencana lanjutan normalisasi Sungai Ciliwung di wilayah DKI Jakarta. Menurutnya, normalisasi sungai menjadi faktor utama dalam upaya pengurangan risiko banjir, terutama di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, hingga Manggarai.
“Normalisasi Sungai Ciliwung memang harus dikerjakan. Kenapa masih terjadi banjir di Pejaten dan Pasar Minggu, karena masih ada beberapa bendung dan segmen sungai yang belum ditangani,” jelasnya.
Diana menjelaskan, dari total panjang Sungai Ciliwung sekitar 33 kilometer yang menjadi target normalisasi, baru sekitar 16 kilometer yang telah ditangani. Sementara sisanya sepanjang 17 kilometer masih dalam proses pengerjaan bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
“Kami tidak sendirian. Ini kerja bersama dengan Pemprov DKI Jakarta. Pembebasan lahan dilakukan oleh Pemprov DKI dan saat ini masih berjalan,” ujarnya.
Ia memastikan Kementerian PUPR telah menyiapkan anggaran untuk melanjutkan proyek normalisasi tersebut pada tahun 2026.
“Kami sudah siapkan anggaran di tahun 2026. Setelah pembebasan lahan selesai, kami akan langsung masuk tahap konstruksi. Mudah-mudahan berlanjut hingga 2027 dan rampung sekitar 2028,” ungkapnya.
Untuk tahap awal normalisasi sepanjang 5,2 kilometer, Diana menyebutkan anggaran yang disiapkan mencapai sekitar Rp400 miliar.
“Kurang lebih anggarannya Rp400 miliar untuk tahap pertama sepanjang 5,2 kilometer, dan akan terus dilanjutkan seiring selesainya pembebasan lahan,” jelas Diana.
Selain membahas normalisasi sungai, Diana juga menyoroti kondisi Bendung Katulampa yang merupakan bangunan lama peninggalan masa kolonial Belanda. Ia meminta agar dilakukan evaluasi ulang terhadap kekuatan bendung serta jembatan di sekitarnya.
“Bendung Katulampa ini sudah ada sejak zaman Belanda. Jembatan yang dulu gantung sekarang sudah dibeton, namun tetap saya minta kepada balai untuk dicek kembali,” tegasnya.
Ia juga menyinggung aktivitas kendaraan, khususnya sepeda motor, yang melintas di atas bendung. Menurutnya, kondisi tersebut perlu dikaji lebih lanjut untuk menjaga keamanan dan ketahanan infrastruktur.
“Saya khawatir jika kendaraan terus melintas, bisa mengganggu kekuatan bendung. Ke depan akan kita studi kemungkinan pemisahan jalur antara jembatan kendaraan dan jembatan khusus bendung,” katanya.
Meski demikian, Diana menegaskan bahwa kondisi Bendung Katulampa saat ini masih aman dan langkah-langkah tersebut bersifat pencegahan.
“Sejauh ini masih aman. Ini bagian dari upaya antisipasi agar ke depan infrastrukturnya tetap terjaga,” pungkasnya.

