
Di tengah berbagai keterbatasan fasilitas dan akses, para guru di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) tetap menunjukkan dedikasi tinggi. Mereka terus mengajar dengan penuh semangat sekaligus berinovasi agar para murid tetap mendapatkan pembelajaran yang berkualitas. Foto : Istimewa/ Kemendikdasmen
Jakarta, tvrijakartanews - Pemerintah terus memperkuat kehadiran negara dalam mendorong transformasi pendidikan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) melalui peningkatan kompetensi guru, pemerataan fasilitas, serta perluasan akses teknologi pembelajaran.
Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru, Nunuk Suryani menegaskan praktik baik para pendidik di daerah 3T menunjukkan keterbatasan bukan penghalang menghadirkan pembelajaran bermakna.
Ia menyebut pemerintah akan terus memperluas dukungan, mulai dari peningkatan kompetensi, penguatan distribusi guru, hingga penyediaan teknologi pembelajaran seperti papan interaktif digital dan akses internet yang lebih merata.
"Cerita praktik baik dari para guru menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna," katanya.
"Pemerintah akan terus memastikan dukungan yang lebih merata, mulai dari peningkatan kompetensi, penguatan distribusi guru, serta dukungan teknologi pembelajaran seperti Papan Interaktif Digital dan akses internet yang semakin luas," jelas Nunuk. Dilansir dari keterangan pers di Jakarta, Sabtu (21/2/2026).
Sebagai bentuk keberpihakan, pemerintah juga menyalurkan Tunjangan Khusus Guru (TKG) bagi pendidik di daerah 3T. Pada 2025, sebanyak 43.393 guru menerima TKG dengan total anggaran Rp636,71 miliar. Setiap penerima memperoleh Rp2 juta per bulan.
Salah satu penerima, guru matematika SMAS Ilmanah Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Risky Jalil, mengaku tantangan mengajar tidak hanya terkait keterbatasan fasilitas, tetapi juga akses menuju sekolah.
Menurutnya, kondisi transportasi saat cuaca buruk, keterbatasan buku dan internet, serta rendahnya literasi dasar sebagian murid membuat proses pembelajaran membutuhkan waktu lebih lama.
"Tantangan terbesar dalam proses pembelajaran di wilayah tersebut adalah transportasi menuju sekolah terutama saat cuaca buruk seperti keras ombak," kata Risky.
"Fasilitas belajar seperti buku, dan jaringan internet juga terbatas. Selain itu, kemampuan literasi dasar sebagian murid masih rendah, sehingga proses pembelajaran membutuhkan waktu lebih lama," ungkapnya.
Meski demikian, ia tetap berinovasi dengan memanfaatkan benda di sekitar sebagai media belajar. Untuk menjelaskan operasi hitung dasar, misalnya, ia menggunakan batu sebagai alat bantu konkret agar murid lebih mudah memahami konsep penjumlahan dan pengurangan.
"Khusus untuk pembelajaran matematika saya sering berinovasi dengan memanfaatkan benda-benda di sekitar karena keterbatasan alat peraga dan teknologi. Misalnya, untuk mengajarkan operasi hitung dasar, saya menggunakan batu sebagai alat bantu konkret agar murid lebih mudah memahami konsep penjumlahan dan pengurangan," kata Risky.
Risky juga menilai kedekatan emosional dengan murid menjadi kunci membangun motivasi belajar. Ia berupaya memahami latar belakang siswa, memberi apresiasi sekecil apa pun pencapaian mereka, serta mengaitkan pelajaran dengan cita-cita murid.
Ia berharap ke depan kualitas pendidikan di wilayah 3T semakin merata, baik dari sisi fasilitas, distribusi guru, maupun akses teknologi, sehingga murid memiliki kesempatan yang sama meraih masa depan lebih baik.
Menurutnya, Tunjangan Khusus Guru memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan dan motivasi kerja. Kehadiran tunjangan mendorong kedisiplinan, keberlanjutan pengabdian di daerah terpencil, serta stabilitas proses pembelajaran.
Selain kebijakan pemerintah, dukungan masyarakat juga berperan penting. Kepercayaan orang tua, keterlibatan dalam kegiatan sekolah, hingga bantuan buku, alat peraga, dan pelatihan menjadi penguat keberhasilan pendidikan.
Melalui sinergi kebijakan pemerintah, dedikasi guru, serta kolaborasi keluarga dan masyarakat, pembangunan sumber daya manusia di wilayah 3T terus diperkuat secara berkelanjutan.

