
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi. (Foto: BPMI Setpres).
Jakarta, tvrijakartanews - Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menghadiri pertemuan ke-3 para utusan khusus untuk Afghanistan (the 3rd Meeting of Special Envoys on Afghanistan) atau disebut Doha III.
Retno menjelaskan, pertemuan Doha III yang diinisiasi oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan dituanrumahi oleh Qatar ini membahas perbaikan Afghanistan serta nasib warganya usai kelompok Taliban menguasai negara tersebut.
"Pertemuan ini membahas tindak lanjut independent assesment Sekjen PBB mengenai Afghanistan, guna membantu rakyat Afghanistan keluar dari krisis multidimensi yang saat ini tengah dihadapi," kata Retno dalam keterangan tertulis, Selasa (2/7/2024).
Retno mengatakan, pertemuan Doha III dipimpin oleh Under-Secretary General for Political and Peacebuilding Affairs PBB, Rosemary DiCarlo dan dihadiri oleh otoritas de facto (DFA) di Afghanistan, yaitu Taliban.
Sementara, ada pula wakil dari 25 negara yang juga menghadiri pertemuan Doha III, antara lain Amerika Serikat, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Korea Selatan, India, China, Jerman, Tajikistan, Uzbekistan, Kanada, Norwegia, Rusia, Turkiye, Qatar, UAE, Saudi Arabia serta juga dihadiri oleh sejumlah organisasi internasional, antara lain PBB, Uni Eropa, OKI, dan Asian Development Bank.
Retno menambahkan, pada pertemuan Doha I dan Doha II, Indonesia juga diundang dan hadir dalam forum tersebut. Namun, untuk pertama kalinya di pertemuan ke-3 para utusan khusus untuk Afghanistan ini hadir otoritas DFA Taliban.
"Perlu saya tekankan bahwa partisipasi DFA pada Doha III sama sekali tidak terkait dengan isu pengakuan terhadap DFA dari Komunitas Internasional, melainkan merupakan sebuah upaya agar dialog inklusif dengan semua stakeholders di Afghanistan termasuk dengan DFA dapat dilakukan. Termasuk dialog terkait hak-hak perempuan dalam konteks pendidikan dan pekerjaan," kata Retno.
Selain tukar pandangan mengenai isu yang sifatnya lebih umum, Retno menjelaskan, pertemuan Doha III ini membahas dua topik utama, yakni Enabling the Private Sector dan Counter Narcotics: Sustaining Progress Made.
Menurut dia, para delegasi menyampaikan komitmen untuk menjadikan kepentingan rakyat Afghanistan sebagai fokus kerja sama.
"Beberapa hal yang mengemuka dalam pertemuan, antara lain bahwa pertemuan menyadari adanya beberapa kemajuan di Afghanistan, misalnya terkait dengan masalah keamanan," ucap Retno.
Retno menhambahkan, pertemuan Doha III juga mengapresiasi kebijakan larangan menanam opium di Afghanistan. Kebijakan ini telah menurunkan 95 persen cultivation of opium di Afghanistan.
"Kita tahu bahwa tantangan dari kebijakan ini adalah bagaimana menyiapkan mata pencarian alternatif bagi para petani yang sebelumnya menanam opium. Oleh karena itu, kegiatan ekonomi harus dipersiapkan sehingga para petani tidak kembali menanam opium atau melakukan kegiatan illicit drugs trafficking," imbuh dia.

